Anjuran Orang Terkaya di Dunia Buat Kita yang [Masih] Miskin

Berapa kali kita berkeingingan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tanpa menegaskannya; lebih dari diri kita di hari kemarin, di hari itu, sebelum hari ini. Entah keberapa kalinya ini, false knowledge model begini masih saja ada nyangkut dalam benak mereka?

Miskin bila kita dibandingkan seorang Bill Gates, juragan Microsoft. Ada satu anjurannya yang justru seringkali dilakukan oleh kita yang masih kismin ini.

“Don’t compare yourself with anyone in this world. If you do so, you are insulting yourself.” – Bill Gates


Dalam hitungan hari kedepan, tahun baru adalah awalan sekaligus refleksi di tahun ini sebagai pembelajaran tiap-tiap manusia. Bill tidak mau kita semakin bodoh dijebak pemikiran dungu itu, Bill kepalang tajir, ia tidak punya motif tersembunyi kenapa ia bicara begitu. Bill tidak butuh apa-apa lagi, filantropis sudah.

Berapa kali kita berkeingingan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tanpa menegaskannya; lebih dari diri kita di hari kemarin, di hari itu, sebelum hari ini. Entah keberapa kalinya ini, false knowledge model begini masih saja ada nyangkut dalam benak mereka?

Justru dengan memilih kebodohan inilah, kita seakan terinformasi, sedikit yang ngeh, itu tidak sama dengan teredukasi. Bill, manusia terkaya yang saat ini saya juga tidak tahu berapa nilai untuk seorang dirinya, menyuruh kita yang masih miskin ini untuk tidak begitu. Itu hanya mengusik kedamaian dalam dirimu sendiri. Jangan begitu harapnya.

Karena Manusia itu Abnormal?

Patokan kenormalan dirimu seperti apa? hanya karena kamu melakukan umumnya kebanyakan manusia, lalu itu dianggap normal?

Bagaimana bila sebaliknya? apa yang dianggap selama ini normal, sebagian melihat itu abnormal? apa yang menurut kebanyakan mereka ingin – butuhkan, tidak berlaku serupa bagi sebagian yang justru menyadarinya; labelisasi membuat hidup kita ini makin susah!

Standarisasi berikut labelisasi yang kita anggap itu sebuah patokan yang mengandung keshahihan, kebenaran; tidak begitu sepenuhnya. Kita membandingkan dua hal berbeda demi satu kesimpulan yang sama, tidak apple to apple. Lensa-mu sudah terdistorsi lebih dulu. Worldview dirimu makin menjauh rancu.

“Lensa yang merusak objektivitas kita, ‘lens distort things.'”

Membandingkan sebuah hasil di antara kedua manusia yang saling berbeda kesehariannya, latar belakangnya, dengan apa yang menjadi permasalahannya pastilah beda dengan satu lagi manusia itu, sudah jelas, hasil bukanlah patokan! proses adalah esensinya.

Process matters

Bila muncul pertanyaan template seputar masalah klasik begini? jawab, “Bill Gates gak mau lu dan gw yang miskin ini, masih aja dibodohi pemikiran ntuh bro!”

Dengan membandingkan apa yang kita telah jalani dan raih, versus dengan apa yang didapatkan oleh mereka di luar sana. Semakin jelas betapa memalukannya kita, hanya seperti boneka yang berperan mengikuti skenario hanya demi terlihat indah, namun ringkih, mudah tergores – retak.

“Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain, banggalah atas semua rentetan kesalahan yang saya juga tidak suka kepahitan didalamnya.”