B.J Fogg Ingin Manusia Semakin Adiktif dengan Teknologi

Konsepnya diadopsi mayoritas tech - startup company di Silicon Valley dan dunia. "In Silicon Valley, Fogg's Behavioral Model answers one of product designers’ most enduring questions: How do you keep users coming back?"

Artikel ini adalah versi lengkap dari jawaban saya di id.quora Menurutmu, apakah teknologi membuat manusia menjadi penyendiri? yang telah dibaca sebanyak 2.2 ribu tayangan dan 48 dukungan.

September 2007

Ia mengumpulkan 75 mahasiswa dalam satu ruangan di Stanford, sepuluh minggu kemudian, mereka sukses meraup 16 juta users ditambah keuntungan 1 juta dollar dari pendapatan iklan.

Kelas itu akhirnya dikenal dengan “The Facebook Class” dengan B.J Fogg adalah pencetus yang juga instruktur kelas tersebut. Nantinya, ia juga terlibat di perusahaan raksasa teknologi lainnya seperti Uber, Facebook dan Google. B.J Fogg adalah legenda hidup di kalangan dunia teknologi Silicon Valley.

Konsepnya diadopsi mayoritas tech – startup company di Silicon Valley dan dunia. “In Silicon Valley, Fogg’s Behavioral Model answers one of product designers’ most enduring questions: How do you keep users coming back?”

B.J Fogg sukses memformulasikan bagaimana kekuatan teknologi yang dipadu dengan ilmu psikologi berujung dengan sifat adiktif pengguna disertai kesenangan mereka dengan menjadi penyendiri.

Bila kita mau menyalahkan kenapa banyaknya generasi jaman now semakin adiktif dengan teknologi, salahkan B.J Fogg. lol

“Menjadi seorang yang adiktif dan menyukai kesendirian, adalah tujuan jangka panjang B.J Fogg dengan bantuan teknologi.”


Tangguhnya Generasi 90-an

Dulu, anak-anak Generasi 90-an perlu berdandan rapih, wangi dan kudu kece, untuk bisa tahu bagaimana karakter seseorang yang ia suka, dekat dengan lingkungan dimana ia tumbuh besar.

Dimanapun kami beraktivitas, hadir penuh utuh saat berinteraksi menjadi kuncian untuk bisa diterima teman-teman pergaulan. Setiap harinya, kami membuka diri untuk menghampiri mereka di rumahnya masing-masing agar mau untuk menerima ajakan rutin, bermain apapun bersama-sama di sore hari.

Dulu saya kecil, saya terpaksa membeli buku harian, dan memohon kepada teman satu kelas untuk menuliskan biodata, pesan dan kesan mereka. Percuma, punya diary bagus, banyak teman yang menolak, saya harus asyik, baik dengan mereka. Dua arah interaksi, saling berharap. Kami butuh teman lainnya agar semua kehidupan rutin berjalan senormalnya. Sekalipun ada televisi, justru kami lebih sreg dengan menikmatinya beramai-ramai.

Menjadi penyendiri kala itu, rentan dipersepsikan sebagai mereka yang tidak memiliki kawan, lekat dengan hal yang tidak menyenangkan, semua sangat menghindari hal tersebut.

Sekarang? Satu arah tok. Bila kita ingin kepo atau pedekate dengan dia yang kita suka, tinggal men-swipe, kiri – kanan, kita punya Tinder! bila kita tidak lagi setuju dengan apa yang dikeluhkan tentang apa yang kita maksud, kita punya kolom komen di Facebook – Instagram! tidak suka dengan percakapan grup Whatsapp? leave group mudah!

Tidak suka dengan mereka yang ngehek di dunia nyata, Facebook group hadir kapanpun kita mau ada disana.

Kasarnya, “Kalau gue maunya dengan apa yang gue mau, kalaupun elo gak suka, that’s fine! semua dalam genggaman gue, lo mau apa?”

Dopamin dalam diri kita terpuaskan cepat, instant gratification (gratifikasi instan), sekali lagi, mendorong untuk diri ini menikmati kesendirian, tanpa perlunya interaksi sosial senormalnya.

Dulu, setiap upaya (input) membutuhkan momen akan suatu hasil (output), yang dimana minimnya peran teknologi jaman itu, mengharuskan kita sabar dengan sebuah output.

Hal inilah yang perlahan mendorong perilaku manusia makin kesini penuh ketidak sabaran, egosentris, yang membentuk perilaku “menjadi sendiri” itu “lumrah.”

Ada momen dimana “menjadi sendiri” memang dibutuhkan, terutama disaat kita dituntut untuk deep work. Mirisnya, justru kita menyenangi kesendirian ketika kita dituntut untuk hadir penuh utuh secara fisik – mental bukan?

Salah satu ciri strawberry generation adalah dengan mudahnya mereka mengadaptasi dengan pelbagai perkembangan teknologi yang masif. Mereka cepat bosan, menganggap terinformasi adalah teredukasi, padahal belum tentu.

Mereka perlahan menjadi adiktif, yang menganggap bahwa menjadi pribadi yang menyukai kesendirian dengan asyik sebuah smartphone di hadapannya adalah hal yang menyenangkan dan positif.

Pernahkah kalian mengamati apa yang terjadi makin hari kesini, bagaimana perilaku saudara kita ketika di tengah momen berkumpul?

Dulu, momen itu adalah momen terindah ketika bertemu nenek, kakek, om dan tante. Bersenda gurau berbonus uang jajan, mereka tahu bahwa Egi kecil pasti datang dengan bocah-bocah mereka lainnya. Saya mengajak mereka untuk berinteraksi dua arah, menghargai perbedaan pendapat, menganggap apa yang ada di depan saya itu adalah mereka yang hadir penuh utuh. Tidak ada kehidupan semu di balik layar.

Bagaimana sekarang ini realitanya?

Saya lihat jelas, ketika sepupu saya yang sekarang beranjak remaja, mereka tidak peduli lagi ketika mereka tidak disapa sekalipun, segenggam gadget dirasa cukup menyembuhkan “kesendirian” mereka.

Tiada lagi, keinginan untuk salam ketika orang yang lebih tua menyapa. Apa yang ada di depan mereka, tidak lebih penting dari apa yang ada di balik kesemuan, penuh tipu daya, dan kepalsuan dunia maya!

Failed Parenting 2.0

Simon Sinek berasumsi, inilah failed parenting 2.0. Peran orangtua yang seakan malu dianggap tidak modern, justru menjadi bumerang dengan memberikan mereka teknologi super canggih di usia dini.

Menjadi “habit”, kemudian “habit creates you.”

Mereka tidak diajari lagi bagaimana social skill justru penentu kepribadian agar tidak lagi menjadi ringkih. Mereka justru mendoktrin anak mereka adalah seseorang yang spesial, bertalenta, dengan keunggulan mereka sebagai lulusan lembaga pendidikan yang bergengsi dipandang publik.

Tidak hanya dengan menjadi penyendiri, Cal Newport dalam bukunya “Deep Work” menjelaskan studi kasusnya, bagaimana peran teknologi menggiring kita dengan kebiasaan multi tasking.

Multi tasking jelas merusak fungsi kognitif otak, kita terjebak kesemuan: bahwa multi tasking adalah cepat dan hebat. Padahal, jejak residu dalam otak ketika melakukan multi tasking, membuat otak kita bekerja dua kali lipat lebih melelahkan dengan pekerjaan multi tasking.

Berpindah dari apps ke apps lain dalam hitungan detik, seakan informasi sangat mudah terkonsumsi. Yeah! multi tasking is a king! mereka pikir.

Jangan salahkan teknologi, selama business model mereka memang membutuhkan pemasukan (revenue) dari varian ads dan keinginan mereka memperbanyak users, mereka akan terus menerus memanipulasi alam bawah sadar kita dengan berbagai teknik.

Permasalahan krusial inilah yang akhirnya membuat iPhone untuk mengkampanyekan using gadget less, demi menghindari sifat adiktif – penyendiri pengguna Apple.

Karena degradasi kognitif pasti berujung dengan anxiety, keresahan yang terus-menerus muncul selama gadget kita genggam.

Sebelum kita (ikutan tanpa sadar) dengan menyenangi kesendirian semu. Simon Sinek meluruskan bahwa sifat menyukai suatu hal yang kita sukai tidaklah sepenuhnya salah, tapi bila kadar dalam menyukainya berlebihan, over. Maka disitulah bahayanya.

“Alcohol is not bad, too much alcohol is very bad. Sugar is not bad, too much sugar is very bad.” ungkapnya Simon Sinek, dalam Leaders Eat Last.

Apakah kamu setuju tentang B.J Fogg dengan konsep bisnis dibalik behavioural model teorinya? kita yang mengontrol teknologi, atau lambat laun justru itu yang mengontrol hidup kita setiap hari?