Kemunafikan yang tergambar berulang kali dalam masyarakat

Artikel ini melengkapi jawaban sebelumnya yang telah ‘Tayang’ sebanyak 6.38K dan 225 ‘Dukung Naik’ via Quora Indonesia dengan pertanyaan: Gambar apakah yang menunjukkan kemunafikan dalam masyarakat? 

Yang tergambar lewat sebuah ritual…pernikahan, sejak dulunya.

Sebuah Walimatul ursy Islam mengenalnya.

Sejak lahir sampai kita semua besar selalu mendengungkan dogma “Fondasi hidup gw yah Agama lah!” ajaran Tuhan dijadikan argumen pembelaan siapapun dalam masyarakat. Tapi terbukti kontradiktif ketika menghadapi momen ritual pernikahan hidupnya. Dalam Islam, menikah sangatlah masuk akal dengan kesederhanaan sesuai kemampuan yang dijadikan acuan semua umat Muslim.

Mereka meminggirkan hal itu di nomor sekian, demi hal yang lebih krusial daripada anjuran agama mereka, di gedung mana yang pantas? seragam khas apa dengan berapa banyak anggota keluarga mengenakannya?

Mereka lebih memilih ketakutan akan disanksi sosial cap rendah masyarakat dengan topik, berapa ratus porsi yang harus disediakan? Bagaimana fotografer, videografer, dokumentasi dengan konsep pre wedding yang memukau mereka undangan? juga siapa tamu terhormat yang akan dicantumkan dalam undangan agar dibaca oleh mereka semua?

Setelahnya, kemana bulan madu-nya? seperti kebanyakan pendahulunya merefleksikan sebuah honey moon.

“Argumen Tuhannya tidak lagi serupa untuk dijadikan landasan saat menghadapi sebuah momen fase kehidupan yang disebut ritual pernikahan.”

Ketika apa yang konon katanya, agama adalah sebuah prioritas – fondasi hidup mereka, yang justru memudahkan umatnya dengan aturan main yang simpel dan terjangkau, kita malah ketakutan dengan ritual pernikahan yang kontra dalam ajaran agama, yang malahan membuat manusia semakin ribet, complicated bila situasi tidak mendukung.

Paranoid sanksi sosial, ketimbang sebuah keharusan.

Saya pun mengalaminya, sampai kontra sana-sini hanya karena menyederhanakan bagaimana seharusnya agama yang dijadikan ‘alat jualan’ dalam keluarga besar, nilainya mutlak daripada sebuah kultur masyarakat.

Memilih sampai tibalah ‘cukup’ dari sisi duniawi – materi, disaat apa yang dianjurkan keyakinannya sudah saatnya menikah.Saat dirasa ‘belumlah cukup’ berpacaran bebas adalah alasan lumrah penjajakan sembari menunggu hari H bukan?

Memilih untuk berhutang sana-sini, meminta pertolongan saudara, siapapun didekatnya sekitar demi prestis – mewahnya ritual pernikahannya.

Mengundang mereka yang terpandang, terhormat di kalangan masyarakat (umumnya pejabat tinggi), ketimbang mengundang anak yatim atau mereka yang jarang mengalami momen kebahagiaan pada hidupnya. Padahal sabda panutannya, seorang manusia mulia berpesan jelas:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ‘seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (pesta) dimana yang diundang hanyalah orang-orang kaya sedangkan orang-orang fakir tidak diundang, siapa yang tidak memenuhi undangan walimahan, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” 

– HR. Bukhari.

Kadar nilai sebuah ‘kultur’ mendadak lebih tinggi dari nilai sebuah ‘fondasi hidup’ kita. Bagaimana sobat saya sampai sekarang kehilangan calon jodohnya karena ketidaksanggupan panai sebagai request pihak sang calonnya.

Yup. Kemunafikan membudaya, dengan ritual pernikahan yang riya diperparah para tamu undangan yang ikutan riya dengan cara eksistensinya masing-masing. Semakin tingginya ‘nilai’ yang bisa diasumsikan lekat dengan kemewahan, semakin tinggi pula nilai kita seakan di mata para manusia, para undangan, hadirin yang terhormat!

Semakin banyaknya logam mulia menghiasi tubuh kedua mempelai, itulah bukti bahwa, inilah pernikahan yang ‘umumnya’, sekalipun rancu menjauh dari ajarannya, padahal kitab sucinya sudah menyuruhnya!

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak padanya dan hendaklah mereka menutupi kain jilbab ke dadanya.”

– QS. An- Nuur, 31.

Kemunafikan masyarakat karena sindrom ini jugalah, yang membuat kultur free sex mewabah di pergaulan anak muda. Justifikasi masyarakat bahwa pernikahan adalah hal yang mahal – mewah, membentuk pola pikir anak muda untuk menolak pernikahan sebagai sebuah solusi, kebaikan manusia.

Karena kemunafikan kita mengaplikasikan ajaran agama – keyakinan yang tidak pada kenyataannya, sebenarnya membuat kita yang theist, berlaku atheist saat menghadapi kemunafikan model begini.

“Wohooo.. entar dulu sob! kan gak semua orang kaya gitu loh?”

Betul, tidak semua. Apalagi bagi mereka yang kehidupan – situasinya memang lebih beruntung. Tapi nyatanya, di sekeliling saya selalu berucap:

“Halahh ngomongin married lagi! modal duit dari mane!? kerja juga masih gini-gini aje sob!”

Disaat aturan keyakinan kita memudahkan, kita lebih menyenangi ? memilih dalam kemunafikan turun-temurun, demi sebuah pandangan dalam masyarakat.

Poin-poin jawaban di atas, semuanya sudah saya temui lewat pengalaman sendiri, dan keunikan kasus demi kasus teman se-angkatan SMP / SMA. Bahkan sobat saya rela terlilit hutang yang ‘wow’ demi itu semua. Setelahnya? silahkan diprediksi sendiri.