Kultur Militer yang Seharusnya Diadopsi dalam Sistem Korporasi

Dalam dunia militer, mereka yang mengorbankan dirinya, diganjar penghargaan prestis sampai sebuah promosi. Sebaliknya, di dunia korporasi dan karir, mereka yang mengorbankan orang lain justru mendapatkan promosi, ganjaran positif. Dalam kultur turun-temurun dalam dunia militer, satu sikap inilah yang membuat mereka satu sama lain saling bersatu, bahu – membahu, atas nama sebuah institusi yang dijunjung mereka hidup dan mati. Rela mengorbankan diri sendiri demi orang banyak di dalam tim.

Hasilnya, mereka lebih dulu nyaman ketika berkerumun dalam lingkungan internal, dengan hanya fokus terhadap ancaman-ancama eksternal di luar sana. Inilah yang berbeda dengan sebuah sistem dalam bisnis – korporasi; di saat ego individu di dalam organisasi, lebih mementingkan selamatnya diri sendiri, tanpa memikirkan teman – sekelilingnya.

Dua ancaman yang setiap hari kita hadapi: dari internal dimana keseharian kita masih banyak dikelilingi teman seprofesi namun diam-diam toxic nan politis, dengan ancaman eksternal; kompetitor yang bersaing tiada habisnya.

Organisasi dalam korporasi yang hebat, otomatis membuat para pemain dalam tim lebih dulu kondusif, positif ditunjang komunikasi yang efektif. Mereka kuat lebih dulu dari dalam, barulah saat menghadapi ancaman eksternal, fokus mereka hanya satu, tidak lagi menakutkan ancaman internal.

Berkorban, Sekalipun Tak Mengenal

Kisah Johnny Bravo populernya, yang dituangkan Simon Sinek dalam Leaders Eat Last satu bukti kultur bagaimana solidnya kultur dalam internal pasukan militer.

Ia prajurit Air Force One, Angkatan Udara Amerika Serikat. Pada Agustus 2002 ia melintasi pegunungan terjal Afghanistan, tugasnya memastikan ia ada disaat temannya di darat sana membutuhkannya.

Suara itu keras memanggil bersahutan, mereka dibawah sana meminta bantuan Johnny di udara; Johnny sendiri tidak mengenal siapa saja mereka, yang pasti mereka sesama prajurit AS. Naas, tragedi jatuhnya Johnny, tidak lama berbalik; bagaimana keteguhannya sukses menyelamatkan mereka di darat.

Malam itu, dua puluh dua orang prajurit terselamatkan karenanya, pulang dengan selamat tanpa adanya korban.

Apa yang ada di otak Johnny saat ia nekad mengorbankan dirinya dengan kemungkinan terbunuh sangat besar?

Ia hanya bernaluri senormalnya manusia, menyelamatkan nyawa sesamanya tanpa perlu mengenal dekat siapa mereka. Sejak ditahbiskan dengan sumpah sebagai prajurit, selama mengenakan seragam dibawah kebangsaan yang sama, ia siap lakukan dengan berbagai resiko setelahnya.

Ia hanya ingin mereka semua selamat. Safety.

Sistem yang tidak lebih manusiawi dalam sebuah korporasi.

Militer mengagungkan peran manusia sebagai makhluk sosial walaupun mereka sering diidentikkan dengan serdadu perang, tapi solid dibawah sumpah kesetiaan prajurt.

Inilah satu kultur bersemayam menempel pekat dalam jiwa ksatria sang prajurit. Jangan heran kenapa mereka begitu solid kompak dalam berbagai situasi apapun.

Dalam kultur bisnis atau korporasi, mereka yang mengorbankan orang lain di sekelilingnya, justru mereka yang mendapatkan kredit positif, pengakuan, atau promosi.

“Kita berbisnis dengan manusia, apapun output tiap organisasi bisnis, manusia adalah aset, pelaku utama sebuah proses.”

Untuk mereka yang mungkin sempat mampir membaca ini, yang juga memiliki influence dalam organisasinya, kapankah kita mengadopsi kultur ini ke dunia ‘kantoran’?

Time to adopt, soon.


Leave a Reply