Teori Kecoa Sundar Pichai yang Mengubah Semua

Pelajaran seekor Kecoa yang menjadi populer berkat seorang Sundar CEO Google, Sundar Pichai, yang mengajari satu hal sederhana dalam menyikapi situasi – kondisi kita setiap harinya.

Ia satu-satunya pria India kelahiran Chennai yang dipercaya Larry dan Sergey, founder Google, untuk memimpin raksasa Google sampai hari ini, Pichai yang masa kecilnya hidup di bawah kemiskinan, mempopulerkan The Cokroach Theory, teori seekor kecoa.

“Inspirasi Pichai agar kita mampu menanggulangi situasi yang sering emosional, reaktif, yang tidak berujung pada sebuah solusi.”

The Cokroach Theory-nya yang bisa mengubah bagaimana saya di hari ini, dan mungkin kamu setelah ini pastinya, dalam menyikapi hal-hal yang tidak mengenakkan di luar sana di kehidupan sehari-hari manusia. Teori dari seekor Kecoa adalah sebuah inspirasi penting bagi kita yang setiap harinya mudah tersulut, emosional, over reaktif, yang perlahan mempengaruhi karakter – pembawaan diri kita sehari-hari. Pengaruh toxic dari mayoritas lingkungan kita,merembes menjadi kebiasaan yang tanpa sadar kita malah adaptasi.

Seperti yang diramalkan Aristoteles 3.000 tahun lalu Sebelum Masehi, “Increase in population will create a more problem in the society.”

Sore itu meja di sebuah coffee shop ekslusif sepertiga ruangannya sudah penuh, ada mereka yang fokus dengan notebook-nya, dengan sekumpulan ibu-ibu sosialita sisanya mendominasi sebagai tamu. Tiga baris meja disatukan demi kenyamanan mereka ber-kongkow plus gosip terdengarnya. Potongan mereka yang kebanyakan berumur 40-an ke atas, nampak tercirikan lewat sayup-sayup suara yang sedang membahas topik terkini.

Mendadak suara jeritan melengkin satu diantara mereka jelas menarik atensi pengunjung lainnya, ia setengah meloncat dengan caci makinya. Seekor Kecoa tak sengaja mampir lewat di sebelah lengannya, ia jelas jijik.

“Kecoa..arghh!!” teriak ibu di pojok itu, semua mata tertuju padanya.

Otomatis, teman di sebelahnya tertular kepanikan, reaksinya makin menjadi-jadi, semuanya ikutan panik ricuh, teriakan bersahutan menjadikan mereka pusat perhatian tamu lain dan para pelayan.

Di tengah kepanikan yang biasa terjadi itu, inisiatif seorang waiter, pelayan pria dengan santai menjinjing sebuah lap basah yang sengaja untuk dijadikan pembungkus sang Kecoa lewat remasan tangannya. Kurang dari lima detik, masalah selesai, Kecoa hilang. Tapi tidak bagi mereka, ibu-ibu itu terus mengoceh kesana-kemari bersumpah serapah, temannya, sama begitu kelakuannya. Sekedar Kecoa selesai perkaranya, tapi tidak dengan mereka para ibu-ibu.

Gerombolan ibu-ibu itu merepresentasikan bagaimana sebuah reaksi terlontar. Sementara sebuah respon yang berujung solusi, dilakukan sang pelayan.

Reaktif dengan bereaksi sesaat di kala menghadapi sesuatu banyaknya mengandung drama, kekisruhan, dengan aura negatif nyatanya. Efek instan yang umumnya manusia berintuisi begitu, adalah sebuah blunder yang berapa lamanya menjebak diri kita semakin emosional nan egosentris. Demi ego, kita memilih emosi dibalut dalam sebuah reaksi.

Sebuah Respon, Bukan Reaksi

Saya mustahil mengikuti bagaimana Pichai berpikir dengan jeniusnya. Tapi Pichai berharap saya dan kamu bisa mengikuti soal ini toh? bagaimana sebuah respon yang dibutuhkan, buang jauh reaksi penuh spontanitas yang naluriahmu itu!

Respon adalah sebuah pilihan yang rasional, masuk akal disertai bagaimana jalan keluar dalam menjawab berbagai garbage dengan noise dari luar sana menyasar ke dalam pikiran – perasaan diri kita.

Sementara reaksi adalah sikap emosional kita yang tidak bisa menjawab apa yang terjadi di luar sana yang menyerang agar masuk ke dalam pikiran dan perasaanmu.

Kita mustahil berharap atasan yang entengnya nge-bacot apapun sesuka jidat tiap kali ego mereka tak terpuaskan oleh kinerja kita. Apalagi bermimpi mendapatkan seorang bos yang ideal, tapi kita bisa mendefinisikan ideal-nya itu bagaimana baiknya bukan?

Kita jangan berharap bisa melobi klien yang tidak puas dengan report atau KPI bulanan, ditambah semenanya mereka memberitakan itu semua via email yang di-cc-kan lintas divisi di kantormu. Paranoid bertambah, bagaimana image-mu tidak lagi sama seperti kemarin, naluri inginnya cepat berbalik membalas semua yang menurutmu itu tidak begitu parahnya.

Reaksi kita dominan setiap kita merasakan, melihat atau mendengar hal-hal yang negatif mengancam kita. Denial, blaming, interupting, dengan hal-hal agak kurang bagus lainnya terpicu dikarenakan ketidakmampuan diri ini menangani garbages – noises di luar sana.

Saya sama sekali tidak bisa mengatur mereka yang berkali-kali menjadikan kesalahan masa lalu, sebagai hakim yang menghakimi diri saya di hari ini. Saya tidak punya kekuatan agar mereka yang terkecoh dengan opini jelek yang tidak berkaitan dengan hidup saya di hari ini, agar mereka berhenti tidak lagi melakukannya.

Belum lagi ditambah di saat saya nekad berbagi via asikngulik ini, pasti bertambah pula bagaimana mereka akan terus-terusan begitu. Sementara banyak yang masih banyak di depan sana yang harus saya dan kamu pikirkan. Waktu dan perhatianmu sangatlah bernilai, tidak sepadan untuk memikirkan – membalas semuanya.

Bahkan seorang Nabi pun mengalami itu. Bahkan Barrack Obama, manusia terpopuler saat menjadi Presiden; juga sama nasibnya. Yin-Yang, plus-minus, baik-buruk, positif-negatif pasti terjadi kawan. Hold on.

“Kabar baiknya, diri kita sendiri-lah yang memegang kontrol atas semua itu.”

Kecoa selalu ada, kapanpun, tanpa kita bisa duga nantinya. Apa kita bisa bersikap seperti the waiter? atau memilih kerdil dengan gaya ibu-ibu rumpi mereka itu? yang hingar bingar kisruh tak karuan tanpa adanya solusi menyelesaikan sang Kecoa.

Sebelum selesai…

Bagaimana pengaruh Pichai tentang cerita ini sangat berpengaruh dalam cara saya memandang proses semua ini, beberapa poin penting dari teori Kecoa ini:

“Your input determines your outlook. Your outlook determines your output. Your output determines your future.” – Zig Ziglar

Apa yang kamu izinkan masuk kedalam pikiran dan perasaanmu itu, akan tercerminkan lewat tampilan di luarmu nanti, kemudian menyebabkan bagaimana masa depanmu berjalan; naik – turun drastis, atau tetap statis gitu-gitu aja. Jangan biarkan sebuah reaksi menjadikan efek – akibatnya masuk menyita pemikiran nan cemerlang, waktu dan tenaga potensialmu.

“Most of how life plays out is up to you, not up to what happens outside of you.”

Saya tidak sanggup lagi menyalahkan apa yang terjadi dari sana kepada diri ini, ujungnya tetap diri kita lah pemegang koentji. Benar babeh bilang, “Jangan salahin orang mulu, kamu sendiri gimana? di luar pasti banyak yang model begitu.” hapal betul indoktrinasinya.

Berdiam diri hening selama dua jam, terbukti via riset di tahun 2013: dapat menumbuhkan sel-sel baru dalam hippocampus di otak kita, bagian yang berperan penting dalam perjalanan proses berkembangnya: pembelajaran, mengingat dan sisi emosional tiap manusia. Diperkuat riset tambahan di tahun 2016 memang pentingnya sebuah silence, bisa menekan rendahnya level zat kortisol dan adrenalin, dua hal penyebab stress kebanyakan terjadi.

Kultur Jepang menaruh sikap diam tak banyak bicara, sebagai kultur yang sangat positif dan mulia.

Dengan mendiamkan, berlagak nothing happened dengan semua yang memancing sisi reaksi kita, justru membuat fokus saya bertambah, meminimalisir akses menerima informasi yang makin overload, dengan tidak mau tahu apa yang terjadi dengan hal-hal destruktif bagi saya.

“Silence is not the absence of sound, but the absence from noises.” – Lao Tzu.

Besok sudah 2019, mampukah saya dan kamu semakin didominasi sebuah respon daripada sekedar reaksi yang naluriah? bagaimana menurutmu? silahkan komen di bawah untuk worldview terbaikmu tentang Pichai dan seekor Kecoa.


Mau lanjut? Dua blog lainnya 🙂