Seandainya Ia Masih Disini, Egol Ingin…

Papa, seperti apa egol ini jikalau hidupnya tak berlimpahan materi, memiliki berlebih kesehariannya?

Papa, apa rasanya direndahkan hanya karena kita tidak ingin seperti yang kebanyakan orang terlihat? menjadi beda karena kebanyakan mereka justru terbiasa karena kesalahan yang lumrah?

Papaku bukanlah manusia suci, ia bukan figur yang sukses hidup berlimpahan materi dan tenar; sekalipun ketenarannya hanya selingkup dataran Tomang Utara, karena empat belas tahun dirinya bercokol Ketua RW.

Buruh kasar Caltex yang pernah mencoba dua tahunan menjadi supir taksi sebagai solusi, demi menafkahi aku, adik dan Mama. Aku ingat empuknya kursi jok depan nan sejuk angin AC mengisi ruangan mobil sedan taksinya, hanya memenuhi rasa inginku melihat parade tentara di depan Istana Merdeka awal 90-an.

Papaku mudanya kacau, rusak, peminum, dengan mudahnya dekat siapapun, hal ini yang membuatnya tidak lagi berlanjut sebagai suami dari Mamaku pada saat kelas 6 SD aku dulu.

“Coba kalau kamu lewat Jaksa, depan Angie’s cafe dulu itu bilang aja anaknya Yandi, temannya Ibrahim. Dulu Papa seringnya disitu,” kenangnya, fase kehidupannya, di mana banyakanya orang menganggap ‘remeh’, hanya karena seorang tourist guide.

Ia bukan seorang Papa yang sebenarnya aku rasa cukup amanah aslinya, berapa kali ia beralasan sibuk bekerja tiap larut malam ia beralasan di tengah kantuknya tidurku.

Ia beralasan sibuk bekerja, bukan karena benar-benar bekerja seperti bagaimana aku berpikirnya; duduk rapih depan meja, ia beralasan ‘sibuk bekerja’ sampai ia pulang larut hanya karena menunggu aku tertidur, agar tidak lagi mengingkarinya, karena ia tidak punya uang untuk membelinya.

Aku dulu berpikir, ia tidak pernah peduli dengan anaknya, sampai setelah ia pergi, aku baru sadar melihat album dan sebuah caption-nya…

Sewaktu kau muda, berpacu adrenalin segaris dengan gaya Iwan Fals wannabe-mu, 0 kilometer ujung Barat kau jejakkan, sampai putihnya pasir Uluwatu sudah biasa kau jejakkan. Sampai aku bisa begitu, kau sudah duluan ke sana; ke tempat yang setiap saat bisa nikmati tanpa terganggu rewelnya anakmu meminta-minta; dari sebungkus indomie gorep di Pos RW, sampai jajan harian yang sering kau sisipkan di samping speaker komputer kesayanganmu.

Hadiah dari adikmu di tahun 2003, perlahan mengubah pembawaanmu, namamu diharuskan diawali dengan huruf ‘H’ sebagai tradisi pasca menyambangi tanah suci-Nya. Memang tidak sesempurna sebagaimana orang tua lainnya dalam membesarkan anaknya, tapi jalannya sudah tergurat, agar aku dan adik suka tak suka menerima kalian berdua. Alhamdulillah.

Tujuh tahun lalu aku kehilangan beberapa hal yang dulu kupikir terlalu ribet, berbau filosofis, katanya prinsipil; tapi ternyata nilai itulah yang menjadikan seorang manusia bernilai, tidak lagi sekedar mengejar kenyamanan demi bertahan hidup; tapi bermanfaat, sekalipun tidak berbalas kebaikan kembali ke diri kita.

Tiap peluh keringat yang kudapatkan dari bayaran kerja rodi part-time, Papa selalu menolak menerimanya, “Pegang saja untukmu, nanti. Papa masih ada.”

Papa, sekalipun rasa trauma kecilku ini dihantui kerasnya hardikanmu, tapi sekarang, aku rindu pemandu yang menguatkanku di saat semuanya yang ku rasa dekat pun, tidak lagi sejalan dengan kehidupan sederhana yang dulu sering engkau lontarkan.

Maafkan, kedua kalinya untuk sepakat melepas semua alat yang menopang nyawamu di ruangan terakhirmu berbaring. Sekarang sudah tujuh tahun berjalan, kadang aku suka bingung di tengah kebingungan menghadapi masalah demi masalah, sendirian, sampai menulis-lah sebuah pelarian terbaik yang bisa kutuangkan.

Papa, karena hanya dengan mendoakanmu, itulah cara terbaikku untuk memelukmu disana…

“Papa, aku rindu…”


Hanya begini aku bisa bersamamu dalam satu dimensi waktu, berbeda objek.

Leave a Reply