‘Start With Why’ on AsikNgulik

Saya masih belajar, polos ia berucap, sang maestro kala Renaissance, Da Vinci. Entah merendah karena keterbatasan dirinya sebagai manusia yang selalu merasa tidak mengetahui, sekalipun kita tahu dirinya adalah jenius.

Seandainya saya tidak nekad terus-terusan mengenal James Altucher yang ternyata memiliki kemiripan kisah hidup, atau tergoda bagaimana kelam dan cacatnya seorang Bukowski dalam kisah Factotum. Mungkin asikngulik ini masih sebatas ide, ide, ide dan rencana. Ditambah, ketakutan akan terlalu banyak bercerita, dengan kapasitas diri ini yang tampaknya belum cocok-cocok amat.


Ternyata, kesempurnaan hanyalah fatamorgana untuk sebuah tulisan dalam blog. Inspirasi mereka jelas bilang, “Kenapa harus takut dengan sebuah kecacatan, kekurangan dan ketidak bagusan yang pernah terjadi dalam hidupmu?”

AsikNgulik hanya situs yang merekam dengan mengumpulkan semua celoteh dan momen di dunia nyata, berubah untuk dirangkai kata demi kata, menjadi kalimat; berharap semoga bermanfaat, tanpa menggurui. Sekedar berbagi.

Jangan ketinggian mengira disini dihiasi konten-konten killer maestro macam Neil Patel, Bryan Dean, Simon Sinek, Ryan Holiday ataupun Seth Godin. Inspirasi mereka cukup menjadi awalan pembakar semangat saja, jangan ngarep.

The Seekers Mode

Seekers mode bagaimana kita mengadopsi worldview yang kontradiktif dengan kita. Mereka yang mengadopsi bahwa pencarian terus bersatus menyala, mode on. Walaupun sejak matahari dan bulan diciptakan, konon banyak yang bilang tidak ada lagi sesuatu yang baru dan orisinil, tapi proses pencarian – pembelajaran bukan berarti statis.

Mencari, dalam pencarian. Memulai langkah mencari dengan pertanyaan sederhana: Kenapa? Why?Seekers Mode, persis Nietzsche bilang,

“I want to learn more and more to see as beautiful what necessary in things; then i shall be one of those who make things beautiful.”

Seekers mode percaya sebuah proses pastilah non instan, akan berbuah ranum layaknya buah organik. Outcome hanyalah akhiran; tidak ada hasil yang pasti, namun ada cara bagaimana melakukannya dengan benar – tepat.

Manifesto

Saya berusaha menulis dengan apa yang pernah dialami, dihadapi nyatanya dalam fase kehidupan ini.

Saya sadar, semakin lantang menyuarakan pandangan; bertambah pula barisan mereka yang siap memusuhi dengan caci maki hinaan. Hanya karena pekatnya dalam meniadakan perbedaan di atas pandangan, atas sebuah worldview.

Inginnya saya, duduk sejajar bersama mereka yang ternyata juga mengalami pahit – pedihnya momen kehidupan di satu sisi. Anggaplah berbagi sebungkus rokok Marlboro Filter dengan segelas kopi hitam segelas berdua, berkeluhlah bersama.

Tidak perlu anggukan ramai tanda mereka setuju, tidak masalah kontra sekalipun; karena intinya kita sendiri pun tidak pernah mengetahui apapun.

Do What You [Think] You Love

Sebelum menuju 2012, inilah beberapa perjalanan keluyuran demi bertahan hidup dengan apa yang saya bisa lakukan sendiri.

Rutinitas part-time (paruh waktu) di sebagian hotel Ibukota, membukakan mata: bahwa hidup itu butuh kerja keras dan disiplin soal waktu, hal terakhir ini yang sering menjadi blunder saat itu.

Thanks a lot to Ervand Daniel, Level Tujuh stake holder for this early step in entertainment world. Lima tahun lebih sewaktu kuliah dulu, side job-an dengan menjual diri dari panggung ke panggung, close up magician menyembuhkan sisi kegugupan dan kegagapan pembawaan saya pada akhirnya. Dwi Montero dan Denny Darko mungkin dua orang paling berjasa mendidik saya.

Bagaimana Pak Yugo adalah manusia yang menjadikan saya tekbal luar – dalam sampai hari ini menghadapi bertubi-tubinya tekanan dalam pekerja kantoran. Upah sejumlah satu juta seratus ribu rupiah, kecil terlihat di saat itu 2009, tapi efeknya sangatlah masif mengajari esensi seorang growth mindset.

“Seandainya 2012 tidak bermulai di sana, Merah Putih Inc.”

Manusia pertama tercatat dalam perjalanan saat itu bisa jadi si Ijod, Audrey Ijod Sianturi yang tetap mempercayai saya. Barulah bagaimana orang yang mengajak saya ngobrol di pantry pada hari kedua saya lintas grup, Danny ‘Oei’ Wirianto yang berjasa membentuk karir saya dalam dunia online, startup.

Mungkin saya masih anak muda yang gak karuan, kuliah yang ending-nya ditebak, drop out, dengan status lulusan SMA paket C

Kerendahan perilaku dengan spirit unlimited sejatinya marketer tulen, tak membuat saya malu untuk menganggap; leader yang berjiwa empowering, mentorship. Cerita tentang bola bekel, masih saya ingat dan aplikasikan sampai hari ini.

Hari ini, proses masih berjalan; seeker mode is ongoing. Kebosanan, jenuh, sumpek, masih bergiliran menyerang; dengan pencapaian yang bila dilihat secara kasat mata (tangible) bagi kebanyakan orang melihatnya, saya masih gini-gini aja.

Berlanjut..


“When why get stronger, then how will be easier.”

Leave a Reply